Beranda Mancanegara Biaya Termurah, Potensi Terbesar: Indonesia Menarik Investor Konstruksi Global

Biaya Termurah, Potensi Terbesar: Indonesia Menarik Investor Konstruksi Global

Singapura masih menjadi pasar konstruksi termahal di Asia Tenggara dengan biaya rata-rata sebesar USD3.104 per meter persegi, sedangkan Indonesia menjadi yang termurah, hanya USD943 per meter persegi.

878
0
Proyek konstruksi di Indonesia Asia tenggara realestat.id dok
Proyek Konstruksi di Indonesia (Ilustrasi Foto: Realestat.id)
Google search engine

RealEstat.id (Jakarta) – Di tengah ketidakpastian global dan tekanan ekonomi dunia, sektor konstruksi di Asia Tenggara justru menunjukkan ketangguhan luar biasa.

Laporan terbaru dari Turner & Townsend, perusahaan jasa profesional global, mengungkap bagaimana kawasan ini tak hanya bertahan, tetapi juga berhasil beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan pasar global.

Melalui laporan Global Construction Market Intelligence (GCMI) 2025, yang mencakup analisis biaya konstruksi di 99 pasar dunia, Asia Tenggara tampil sebagai kawasan yang menarik bagi investor global.

Permintaan terhadap infrastruktur penting seperti pusat data (data center) melonjak, didorong oleh lonjakan aktivitas digital, sementara fokus industri pun mulai bergeser ke arah bangunan berkelanjutan—dua faktor yang memperkuat daya tarik kawasan ini.

Baca Juga: Tiga Perbedaan Mendasar Proses Konstruksi di Indonesia dengan di Negara Maju

Brian Shuptrine, Managing Director Turner & Townsend Asia mengatakan, pasar di Asia Tenggara tidak hanya tangguh, tetapi juga gesit dalam merespons perubahan.

Komitmennya terhadap digitalisasi dan keberlanjutan menciptakan peluang besar di sektor seperti pusat data dan manufaktur canggih,” terangnya.

Indonesia: Tumbuh Stabil, Kompetitif, dan Semakin Percaya Diri

Jakarta mencatatkan biaya konstruksi rata-rata USD943 per meter persegi, menjadikannya salah satu pasar paling kompetitif di kawasan Asia Tenggara. Pertumbuhan konstruksi didorong oleh lonjakan proyek pusat data, seiring dengan ekspansi ekonomi digital Indonesia.

Minat tinggi dari pengembang lokal menambah energi baru di sektor ini. Hal yang menarik, kontraktor dalam negeri kini mulai memenangkan proyek berskala besar, khususnya pusat data—sebuah sinyal positif terhadap peningkatan daya saing nasional.

Namun demikian, tantangan tetap ada. Keterbatasan bahan bangunan berkualitas tinggi yang masih diimpor membuat proyek besar rentan terhadap tekanan biaya dan ketidakpastian pasokan.

Baca Juga: IFCA Hadirkan Software Konstruksi Berteknologi AI ContractX untuk Efisiensi Proyek

Singapura: Biaya Tinggi Tak Menghalangi Laju Pembangunan

Dengan rata-rata biaya konstruksi mencapai USD3.104 per meter persegi, Singapura tercatat sebagai pasar termahal di Asia Tenggara.

Meski begitu, geliat pembangunan tak melambat. Dalam empat bulan pertama 2025, nilai kontrak konstruksi naik sekitar 60% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Namun, pasar juga dihadapkan pada tantangan klasik: kekurangan tenaga kerja terampil, khususnya di bidang mekanikal, elektrikal, dan perpipaan (MEP).

Ditambah dengan kenaikan biaya pembuangan limbah dan regulasi keberlanjutan yang makin ketat, banyak pihak mulai mengadopsi model kontrak kolaboratif demi efisiensi dan pengendalian risiko proyek.

Malaysia: Di Tengah Tekanan Pajak, Pusat Data dan Infrastruktur Tetap Jadi Motor Pertumbuhan

Malaysia melaju dengan kepercayaan diri. Proyek-proyek besar seperti MRT3 Circle Line dan LRT Penang menjadi tulang punggung pertumbuhan, ditambah lonjakan investasi swasta di sektor pusat data.

Biaya konstruksi di Kuala Lumpur relatif kompetitif di angka USD1.354 per meter persegi. Namun, perluasan pajak Sales and Service Tax (SST) ke sektor konstruksi (kecuali hunian dan fasilitas publik) mulai menekan margin keuntungan pelaku industri.

Sebagai respons, perusahaan mulai melirik efisiensi lewat solusi digital, pendekatan kolaboratif, hingga strategi hijau seperti pengurangan jejak karbon bahan bangunan.

Baca Juga: Mengenal Lebih Dekat Teknologi Modular Untuk Konstruksi Hunian di Indonesia

Kekurangan Tenaga Kerja MEP Jadi Masalah Bersama Kawasan

Krisis tenaga kerja terampil di bidang MEP menjadi isu yang merata di seluruh kawasan. Survei GCMI mencatat 90,9% pasar di Asia—termasuk Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Vietnam—mengalami kekurangan tenaga kerja spesialis.

Walau pasokan tenaga kerja umum di Indonesia dan Vietnam tergolong stabil, pertumbuhan permintaan terhadap tenaga kerja “green collar” atau profesional berfokus lingkungan, jauh lebih cepat dibanding suplai yang tersedia. Hal ini menegaskan urgensi investasi dalam pelatihan dan pengembangan tenaga kerja lokal.

“Kunci keberhasilan proyek masa depan tak hanya pada biaya, tetapi juga pada efisiensi dan ketahanan rantai pasok. Pasokan material melimpah dari Tiongkok bisa jadi keuntungan, tetapi investasi pada tenaga kerja lokal tetap tak tergantikan,” jelas Sumit Mukherjee, Managing Director Turner & Townsend Asia Tenggara.

Pusat Data Jadi Bintang Utama; Aktivitas Sewa Kantor Mulai Bangkit

Sektor pusat data kini menempati posisi terdepan, mengungguli sektor manufaktur, distribusi, dan industri lainnya dalam pertumbuhan konstruksi.

Permintaan tinggi dari penyedia layanan cloud dan perusahaan hyperscaler menjadikan sektor ini motor utama pembangunan di Asia Tenggara.

Selain itu, pasar perkantoran menunjukkan pemulihan, sementara proyek di sektor perhotelan, olahraga, dan hiburan mulai menunjukkan geliat seiring kebangkitan kembali sektor pariwisata.

Baca Juga: Dulux Professional Tampilkan Inovasi Baru di Pameran Konstruksi Indonesia 2024

Tren nearshoring dan relokasi industri dari negara maju juga ikut memperkuat peran Asia Tenggara sebagai pusat pertumbuhan baru.

Negara seperti Vietnam dan Malaysia diperkirakan akan diuntungkan oleh kelebihan pasokan material dari Tiongkok, terutama jika ketegangan dagang antara Tiongkok dan Amerika Serikat berlanjut.

Namun, Malaysia kini harus bersiap dengan tantangan baru, yakni kebijakan bea anti-dumping yang berpotensi memengaruhi biaya proyek dan strategi rantai pasok ke depan.

Menuju Masa Depan Konstruksi yang Berkelanjutan

Secara keseluruhan, Asia Tenggara menunjukkan arah pertumbuhan konstruksi yang semakin strategis dan berorientasi masa depan.

Fokus kawasan ini tak lagi hanya soal harga, melainkan pada nilai jangka panjang—melalui keberlanjutan, efisiensi, dan penguatan kapasitas lokal.

Turner & Townsend pun menegaskan pentingnya pendekatan menyeluruh dalam mengelola proyek: dari penguatan rantai pasok dalam negeri hingga investasi jangka panjang dalam tenaga kerja terampil.

“Asia Tenggara siap menjadi pusat pembangunan masa depan. Namun keberhasilannya sangat bergantung pada strategi adaptif—menggabungkan efisiensi, keberlanjutan, dan kapasitas lokal yang kuat,” tutup laporan tersebut.

Redaksi@realestat.id

Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News