Beranda Pasar Properti Pasar Perkantoran CBD Jakarta Terus Menunjukkan Perbaikan di 2026

Pasar Perkantoran CBD Jakarta Terus Menunjukkan Perbaikan di 2026

Seluruh indikator pasar perkantoran CBD Jakarta pada 2026 diperkirakan akan terus menunjukkan tren perbaikan, mulai permintaan, penyerapan bersih, tingkat hunian, hingga harga sewa.

201
0
Panduan Investasi Office Pasar Properti Perkantoran CBD Jakarta Jabodetabek realestat.id dok
Kawasan CBD Jakarta. (Foto: realestat.id)
Google search engine

RealEstat.id (Jakarta) – Prospek pasar perkantoran di kawasan pusat bisnis (Central Business District/CBD) Jakarta menunjukkan tren perbaikan yang semakin solid.

Tingkat penyerapan ruang perkantoran di CBD Jakarta tercatat tetap positif. Hal ini turut ditunjang oleh konektivitas transportasi massal seperti MRT Jakarta.

Salah satu faktor utama yang mendorong penguatan pasar perkantoran CBD Jakarta adalah tidak adanya tambahan pasokan baru sepanjang tahun 2026.

Konsultan properti Cushman & Wakefield Indonesia mencatat, total stok perkantoran CBD Jakarta tercatat stabil di kisaran 7,4 juta meter persegi hingga akhir Desember 2025.

Baca Juga: Pasokan Bertumbuh, Green Office Perkuat Daya Saing Perkantoran CBD Jakarta

Diperkirakan pasokan tidak akan berubah di sepanjang 2026 dan baru akan bertambah paling cepat pada tahun 2027.

“Kondisi ini memberikan ruang bagi pasar untuk menyerap ruang kosong yang masih tersedia, sekaligus mendorong peningkatan tingkat hunian secara bertahap,” tutur Arief Rahardjo, Director of Strategic Consulting Cushman & Wakefield Indonesia.

Tingkat Hunian Terus Meningkat

Seiring dengan ketiadaan pasokan baru, tingkat kekosongan ruang perkantoran CBD Jakarta diperkirakan akan terus menurun.

Pada akhir 2025, tingkat hunian CBD secara keseluruhan tercatat mencapai 76,7%, meningkat sekitar 1,4% dibandingkan tahun sebelumnya.

Baca Juga: Pasokan Stagnan, Strategi Rightsizing Banyak Dipakai Tenant Perkantoran di CBD Jakarta

Memasuki 2026, Cushman & Wakefield Indonesia memprediksi tingkat hunian rata-rata akan kembali naik menjadi 78,8%, didorong oleh penyerapan bersih yang tetap positif dan aktivitas permintaan yang masih aktif.

Menurut Arief Rahardjo, dari sisi permintaan, pasar perkantoran CBD Jakarta masih menunjukkan ketahanan yang kuat.

Sepanjang 2025, penyerapan bersih tahunan tercatat mencapai 105.000 m², dengan sekitar 90% di antaranya berasal dari gedung Grade A.

“Permintaan ini mayoritas didorong oleh penyewa yang melakukan ekspansi maupun relokasi kantor, terutama untuk menyesuaikan kebutuhan ruang kerja yang lebih efisien dan representatif,” terangnya.

Pada 2026, diperkirakan penyerapan bersih akan tetap positif dan bahkan meningkat menjadi sekitar 145.000 m² sepanjang tahun.

Baca Juga: Tren Flight-to-Quality di Pasar Perkantoran CBD Jakarta

Riset Cushman & Wakefield Indonesia memperlihatkan, perbaikan tingkat hunian (okupansi) pasar perkantoran CBD Jakarta mulai tercermin pada pergerakan harga sewa.

Hingga akhir Desember 2025, rata-rata sewa dasar perkantoran CBD Jakarta mencapai Rp173.900 per m² per bulan, tumbuh 3,0% secara tahunan (YoY).

Sementara itu, jelas Arief Rahardjo, biaya layanan (service charge) tercatat sebesar Rp94.700 per m² per bulan, naik 1,2% secara tahunan (YoY).

Sejalan dengan tren peningkatan hunian, rata-rata sewa dasar diproyeksikan akan kembali naik sekitar 4,0% (YoY) pada 2026.

“Meski demikian, pemilik gedung diperkirakan masih akan bersikap hati-hati dalam menaikkan harga sewa dasar, mengingat kondisi pasar yang masih dalam fase pemulihan bertahap,” terangnya.

Baca Juga: Tenant Makin Peduli ESG, Pasar Perkantoran Hijau Tumbuh Stabil di CBD Jakarta

Gedung Sepanjang Koridor MRT Semakin Unggul

Dalam tiga tahun terakhir, kesenjangan tingkat hunian antara gedung perkantoran di sepanjang koridor MRT Jakarta dan non-MRT semakin melebar.

“Jalur MRT terbukti menjadi pendorong utama permintaan ruang perkantoran di kawasan CBD,” kata Arief, menegaskan.

Gedung-gedung Grade A di sepanjang Jalur MRT Fase 1 mencatat peningkatan tingkat hunian yang lebih cepat dibandingkan gedung di luar koridor MRT.

“Bahkan, perbedaan tingkat hunian tersebut telah berlipat ganda hingga mencapai 2,0% dalam tiga tahun terakhir,” tuturnya.

Menurut Arief, konektivitas transportasi massal kini menjadi salah satu faktor kunci yang dipertimbangkan penyewa dalam menentukan lokasi kantor, baik untuk relokasi maupun ekspansi di masa depan.

Baca Juga: Hingga 2028, Pasokan Ruang Perkantoran di Jakarta Bertambah 352.000 Meter Persegi

Ke depan, koridor Thamrin–Kota Tua diperkirakan akan menjadi lokasi paling diminati untuk permintaan dan pengembangan perkantoran CBD Jakarta.

Namun, terbatasnya ketersediaan lahan kosong di sepanjang koridor ini membuat redevelopment atau pembangunan kembali gedung eksisting menjadi opsi paling realistis.

Untuk mendukung pertumbuhan tersebut, penyederhanaan biaya interkoneksi serta proses negosiasi antara operator transportasi umum, seperti MRT Jakarta, dengan pihak swasta dinilai sangat penting guna menciptakan ekosistem perkantoran yang lebih kompetitif.

Arief memaparkan, seluruh indikator pasar perkantoran CBD Jakarta pada 2026 diperkirakan akan terus menunjukkan tren perbaikan.

Permintaan diproyeksikan tetap kuat, penyerapan bersih berlanjut positif, tingkat hunian meningkat, dan harga sewa mulai bergerak naik secara bertahap.

“Dengan fondasi pasar yang semakin solid dan dukungan infrastruktur transportasi yang semakin matang, pasar perkantoran CBD Jakarta berada pada jalur pemulihan yang berkelanjutan menuju fase pertumbuhan berikutnya,” pungkasnya.

Redaksi@realestat.id

Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

19 − twelve =