Beranda Pasar Properti Ritel Menengah Jakarta Harus Berani Berevolusi Jika Ingin Bertahan

Ritel Menengah Jakarta Harus Berani Berevolusi Jika Ingin Bertahan

Menurut laporan Colliers Indonesia, sektor ritel Jakarta kini didominasi oleh penyewa F&B yang mencapai 60% hingga 70% dari total area mal.

113
0
ilustrasi retail atau mal di Jakarta-RealEstat.id
Ilustrasi retail atau mal di Jakarta. (Sumber: BBC)
Google search engine

RealEstat.id (Jakarta) – Menginjak tahun 2026, sektor ritel Jakarta dan kawasan Bodetabek (Bogor, Depok, Tangerang) mengalami transisi menuju era baru.

Meski kondisi telah pulih perlahan, tetapi pemilik dan pengelola mal harus tetap adaptif dalam menghadapi perubahan perilaku konsumen.

“Konsumen kini lebih berhati-hati dan memilih untuk belanja keperluan harian dan F&B,” kata Senior Associate Director Colliers Indonesia, Ferry Salanto dalam paparan virtualnya, Rabu (07/01/2026).

Tren ini yang kemudian membuat tenant makanan dan minuman jadi anchor utama, sehingga pengelola harus membuat gedung ritelnya nyaman untuk tempat nongkrong, sosialisasi, bahkan olah raga.

Baca Juga: Konsep Ritel Semi-Outdoor Lifestyle, Solusi di Tengah Lesunya Pasar Properti Jakarta

Konsultan real estate global itu melihat bahwa porsi penyewa F&B kini mencapai 60%–70% dari total area pusat perbelanjaan.

Sejauh ini, imbuh Ferry, pemulihan pasar ritel Jakarta dan Bodetabek terdorong oleh mal kelas atas yang mampu menarik brand baru.

Sementara pusat perbelanjaan kelas menengah ke bawah masih harus terus berjuang agar tetap relevan.

“Ritel Jakarta kelas menengah ke bawah masih berfokus pada tenant mix dan perbaikan fasilitas agar tetap relevan dengan minat konsumen,” ujar Ferry Salanto.

Baca Juga: Pasokan Ruang Ritel di Jabodetabek Capai 8,4 Juta Meter Persegi di 2026: Colliers Indonesia

Pasok Baru yang Terbatas

Berdasarkan laporan terbaru Colliers Indonesia Q4-2025, pasokan ruang ritel baru di Jakarta masih terbatas.

Sepanjang periode kuartal III dan IV-2025, hanya ada proyek K-Mall Kemayoran yang menambah pasok ritel di Jakarta, sehingga totalnya mencapai 44.000 m2.

Sementara pasok mal atau ritel kawasan Bodetabek cenderung stablil, dengan total ruang mencapai 133.744 meter persegi.

Serapan tersebut didorong oleh peritel F&B, Fashion, dan hiburan.

Banyak mal kini menerapkan konsep experiencebased retail. Artinya, pengelola menghadirkan fasilitas non belanja, seperti pusat kebugaran hingga area olahraga padel dan pickleball yang sedang ngetren.

Baca Juga: Pusat Perbelanjaan di Jakarta Diminati Peritel Asal China

“Konsep experiential ritel makin dominan. Ini yang terlihat dengan kehadiran lifestyle sport seperti padel dan pickelball,” terang dia.

Colliers juga melihat adanya gelombang brand dari Asia, terutama Tiongkok dan Jepang yang masuk ke pasar ritel Jakarta.

Meski demikian, lokal justru semakin kuat lantaran mampu menghadirkan produk yang relevan bagi konsumen tanah, dengan harga lebih terjangkau.

Proyeksi Sektor Ritel Jakarta

Dalam pemaparannya, Colliers juga memproyeksikan akan ada tambahan total pasok sebesar 177.000 m2 hingga tahun 2028, mayoritas datang dari kawasan BoDeTaBek.

Minat ekspansi peritel akan mendorong tingkat hunian untuk tumbuh 3% per tahun, selama periode tahun 2026 hingga 2028 mendatang.

“Kedepannya, kami melihat pada tahun 2026 ritel Jakarta diramaikan oleh revitalisasi dan menghidupkan aset lama, bukan membuat mal baru,” katanya.

“Jadi, ritel Jakarta tidak mati, tetapi berevolusi. Dan mal kelas menengah ke bawah harus berani mengubah konsepnya menyesuaikan dengan tren,” pungkas Ferry Salanto.

Redaksi@realestat.id

Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

16 − 4 =