Beranda Pasar Properti Sektor Industri Jabodetabek Kian Solid, Tenant Asal China dan e-Commerce Jadi Motor...

Sektor Industri Jabodetabek Kian Solid, Tenant Asal China dan e-Commerce Jadi Motor Utama

Saat ini terjadi pergeseran pola permintaan di sektor industri, di mana Indonesia tidak hanya dipandang sebagai basis produksi, tetapi juga sebagai pasar konsumsi yang sangat besar.

217
0
Sektor Industri Indonesia Berpeluang Tumbuh di Tengah Perang Dagang Global-RealEstat.id-Adhitya Putra
Pekerja di sektor industri furnitur sedang mengoperasikan mesin untuk membuat pintu lemari. (Foto: RealEstat.id/Adhitya Putra)
Google search engine

RealEstat.id (Jakarta) – Pasar properti sub sektor industri di Jakarta dan kawasan penyangga (Jabodetabek) menunjukkan tren pertumbuhan permintaan yang solid dalam dua tahun terakhir (2023 – 2025).

Kenaikan ini didorong oleh ekspansi pesat sektor e-commerce, relokasi manufaktur global, serta strategi diversifikasi rantai pasok produsen asal China yang dikenal dengan skema China+1.

Head of Industrial Services PT Leads Property Services Indonesia, Esti Susanti, mengonfirmasi kuatnya sentimen positif tersebut.

Dia menyoroti adanya pergeseran pola permintaan di sektor industri, di mana Indonesia kini tidak hanya dipandang sebagai basis produksi, tetapi juga sebagai pasar konsumsi yang sangat besar.

Baca Juga: Sektor Industri Indonesia: Didorong Populasi, Tersandung Regulasi

“Kondisi ini mendorong banyak produsen, khususnya dari China, untuk mendekat ke pasar utama mereka,” ujar Esti Susanti kepada awak media.

Dia menambahkan, pasca kebijakan tarif era Trump, Leads Property mencatat lonjakan signifikan permintaan terhadap pabrik siap pakai.

Produsen China membutuhkan fasilitas yang siap beroperasi agar dapat segera memulai produksi dan menjaga kelancaran ekspor ke Amerika Serikat.

Berdasarkan data Leads Property, total pasokan gudang dan pabrik sewa di Jakarta serta wilayah penyangga seperti Bekasi, Tangerang, Karawang, dan Purwakarta telah mencapai sekitar 2,54 juta meter persegi.

Tingkat hunian tercatat sangat ketat, berada di kisaran 90% – 92%, mencerminkan kondisi pasar yang solid dan kompetitif.

Baca Juga: EV-Related Dorong Kinerja Kawasan Industri Jabodetabek, Investor Masih Pantau Stabilitas Politik

Esti menjelaskan, mayoritas penyewa—terutama dari China—umumnya memilih masa sewa awal selama 3 hingga 5 tahun sebagai periode uji coba.

Tahap ini digunakan untuk menilai potensi pasar, efisiensi logistik, hingga produktivitas tenaga kerja lokal.

Dari sisi spesifikasi, permintaan juga semakin selektif, antara lain akses tol kurang dari 3 km, tinggi langit-langit minimal 8 meter untuk pabrik dan 10 meter untuk gudang, serta daya dukung lantai yang tinggi.

Dari segi profil penyewa, sektor e-commerce dan manufaktur masih menjadi penggerak utama permintaan.

Pada segmen gudang modern, e-commerce berkontribusi sekitar 25%, disusul industri FMCG dan otomotif yang masing-masing menyumbang 20%.

Baca Juga: Sektor Industri Indonesia Berpeluang Tumbuh di Tengah Perang Dagang Global

Sementara itu, untuk pabrik siap pakai, industri elektronik mendominasi dengan porsi 35%, sejalan dengan tren relokasi manufaktur komponen elektronik ke Indonesia.

Meski prospek pasar sangat positif, Esti Susanti mengingatkan adanya sejumlah tantangan yang perlu dicermati.

“Ketidakseimbangan antara tipe pasokan dan permintaan, konsentrasi permintaan di lokasi tertentu, serta keterbatasan utilitas industri seperti gas alam masih menjadi tantangan utama,” jelasnya.

Selain itu, faktor makro seperti ketidakpastian geopolitik dan kenaikan biaya konstruksi juga berpotensi memengaruhi kinerja pasar.

Baca Juga: Geser Data Center, Otomotif Dominasi Sektor Industri di Jabodetabek

Memasuki 2026, Leads Property memperkirakan tambahan pasokan baru sekitar 230.000 meter persegi, dengan tingkat hunian yang diproyeksikan tetap stabil di kisaran 90% – 92%.

Sementara itu, imbuh Esti Susanti, harga sewa diperkirakan mengalami kenaikan moderat sekitar 1% – 2%.

Ke depan, pengembangan sektor industri akan semakin menitikberatkan pada efisiensi, keberlanjutan, dan keterpaduan kawasan.

“Hal ini sejalan dengan tuntutan manufaktur berkelanjutan serta posisi strategis Indonesia di Asia Tenggara,” pungkas Esti.

Redaksi@realestat.id

Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

two + eighteen =