Beranda Pasar Properti Pasar Perkantoran Jakarta: Menuju Fase Pemulihan, Meski Oversupply Membayangi

Pasar Perkantoran Jakarta: Menuju Fase Pemulihan, Meski Oversupply Membayangi

Permintaan ruang perkantoran di Jakarta ditopang oleh aktivitas ekspansi dari sektor IT, keuangan, periklanan, serta perusahaan penyedia jasa profesional yang membutuhakan ruang fisik untuk operasional dan kolaborasi.

253
0
Pasar Gedung Ruang Perkantoran CBD Jakarta Kuartai I II III IV 2024 2025 Realestat.id dok
Kawasan perkantoran di CBD Jakarta. (Foto: Realestat.id/Anto Erawan)
Google search engine

RealEstat.id (Jakarta) – Pasar perkantoran Jakarta hingga akhir Kuartal III 2025 menunjukkan dinamika yang relatif stabil, meski tekanan oversupply masih menjadi tantangan utama.

Total pasokan ruang kantor di seluruh Jakarta tercatat mencapai 11,6 juta m², dengan kontribusi terbesar berasal dari kawasan Segitiga Emas Jakarta (CBD) yang terus menjadi magnet bagi perusahaan nasional maupun multinasional dengan suplai 7,45 juta m².

Menukil riset yang dilakukan Leads Property, di sepanjang Kuartal III 2025, permintaan ruang perkantoran di Jakarta tercatat mencapai 18.752 m².

Angka ini terutama ditopang oleh aktivitas ekspansi dari sektor IT, keuangan, periklanan, serta berbagai perusahaan penyedia jasa profesional yang masih mempertahankan kebutuhan ruang fisik untuk operasional dan kolaborasi.

Baca Juga: Pasokan Stagnan, Strategi Rightsizing Banyak Dipakai Tenant Perkantoran di CBD Jakarta

Secara keseluruhan, pasar perkantoran Jakarta membukukan tingkat okupansi rata-rata 75%. Meski stabil, pasar masih dibayangi oleh besarnya ruang yang belum terserap, yakni sekitar 3 juta m².

“Kondisi ini menunjukkan bahwa pemilik gedung perlu terus beradaptasi melalui strategi harga yang lebih kompetitif dan fleksibilitas penyewaan,” papar Martin Samuel Hutapea, Associate Director Research & Consultancy Department PT Leads Property Services Indonesia.

Dari sisi harga, tarif sewa kotor (asking gross rent) rata-rata di Jakarta berada pada level Rp299.000 per m² per bulan.

“Harga ini relatif stabil dibandingkan beberapa kuartal sebelumnya, mencerminkan keseimbangan antara tekanan kompetisi dan kebutuhan menjaga nilai ekonomi aset gedung,” terangnya.

Baca Juga: Flex Office: Pengertian, Perkembangan, dan Potensi Bisnisnya di Jakarta

Perbandingan Kinerja Pasar Perkantoran Jakarta: CBD vs Non-CBD

Leads Property mencatat, kawasan Jakarta CBD sebagai pusat bisnis utama menyumbang sekitar 64% dari total pasokan perkantoran di Jakarta.

Tingkat okupansi di kawasan ini berada pada level 73%, dengan rata-rata harga sewa kotor Rp331.000 per m² per bulan.

“Permintaan di CBD umumnya berasal dari perusahaan multinasional, firma keuangan, serta sektor teknologi yang mengutamakan lokasi premium dan aksesibilitas tinggi,” jelas Martin.

Sementara itu, kawasan Non-CBD—yang meliputi TB Simatupang, Puri, dan Kuningan Timur—berkontribusi sekitar 36% terhadap total pasokan perkantoran Jakarta.

Baca Juga: Tenant Makin Peduli ESG, Pasar Perkantoran Hijau Tumbuh Stabil di CBD Jakarta

Kawasan ini mencatat tingkat okupansi lebih tinggi, yakni 76%, dengan rata-rata harga sewa kotor Rp240.000 per m² per bulan.

“Harga sewa yang lebih kompetitif membuat Non-CBD semakin diminati oleh perusahaan yang ingin menekan biaya operasional tanpa mengurangi kualitas ruang kerja,” ujarnya.

KawasanKontribusi PasokanTingkat Okupansi Rata-rataHarga Sewa Kotor Rata-rata (per m²/bulan)
Jakarta CBD64%73%Rp 331.000
Non-CBD Jakarta36%76%Rp 240.000

Sumber: Leads Property

Baca Juga: Tren Flight-to-Quality di Pasar Perkantoran CBD Jakarta

Martin Samuel Hutapea Leads Property realestat.id dok
Martin Samuel Hutapea, Associate Director Research & Consultancy Department PT Leads Property Services Indonesia. (Foto: Istimewa)

Pasar Perkantoran Jakarta 2026: Flight-to-Quality Menguat

Memasuki tahun 2026, pasar perkantoran Jakarta diperkirakan akan terus bergerak dinamis mengikuti perubahan kebutuhan bisnis, strategi efisiensi perusahaan, serta perkembangan infrastruktur kota.

Berdasarkan riset Leads Property, pasokan kumulatif bertahan di angka 11,6 juta m², sementara permintaan kumulatif menunjukkan peningkatan signifikan sebesar 75.000 m² – 85.000 m².

Di sisi lain, harga sewa kotor juga diproyeksikan stabil pada level Rp299 ribu per m² per bulan, mencerminkan kondisi pasar yang cenderung seimbang antara pasokan dan permintaan.

Sejumlah tren yang mulai terlihat di 2025 diproyeksikan berlanjut dan semakin menguat, mendorong transformasi struktur permintaan dan penawaran di sektor perkantoran.

Menurut Martin, salah satu tren utama yang diperkirakan mendominasi pasar perkantoran Jakarta pada 2026 adalah fenomena flight-to-quality.

Banyak penyewa di luar-CBD mulai mempertimbangkan relokasi ke gedung-gedung premium di kawasan CBD yang menawarkan kualitas bangunan lebih baik, lokasi lebih strategis, dan fasilitas lebih lengkap.

Baca Juga: Stok Perkantoran di CBD Jakarta Mandek, Green Office Makin Diminati

“Perpindahan ini terutama didorong oleh sektor-sektor yang menjadi motor permintaan ruang kantor, seperti: keuangan, teknologi informasi (IT), Fast-moving consumer goods (FMCG), logistik, dan berbagai jasa profesional,” jelasnya.

Sektor-sektor tersebut memiliki kebutuhan akan ruang kerja yang representatif serta mendukung aktivitas hybrid dan kolaboratif.

Di sepanjang 2026, Leads Property memperkirakan, permintaan untuk mengonversi ruang perkantoran ke fungsi lain diprediksi semakin tumbuh.

Banyak pemilik gedung mulai membuka opsi pemanfaatan ruang untuk: hotel dan serviced apartment, kampus dan fasilitas edukasi, serta klinik dan fasilitas kesehatan.

“Fenomena ini menjadi strategi adaptif di tengah tantangan okupansi, sekaligus membuka peluang bagi gedung yang ingin masuk ke pasar mixed-use atau memperluas segmen penyewanya,” tutur Martin Samuel Hutapea.

Baca Juga: Koridor MRT dan LRT Jadi Magnet Baru Pasar Perkantoran Jakarta

Sementara itu, gedung-gedung perkantoran yang berada dekat dengan MRT, LRT, TransJakarta, serta koridor transportasi publik lainnya diproyeksikan terus membukukan tingkat okupansi lebih tinggi.

Aksesibilitas yang mudah, fasilitas pendukung yang lengkap, serta meningkatnya preferensi karyawan terhadap mobilitas efisien, menjadikan lokasi transit-oriented sebagai salah satu faktor yang paling menentukan keputusan penyewaan.

Leads Property memprediksi, pasar perkantoran strata-title di Jakarta masih akan bergerak secara terbatas pada 2026.

Aktivitas transaksi diproyeksikan tetap terfokus di kawasan SCBD, di mana penjualan didominasi oleh unit sekunder yang menawarkan harga lebih kompetitif dibanding unit baru.

“Hal ini membuat SCBD tetap menjadi pusat perhatian bagi investor maupun end-user yang mencari prestise sekaligus nilai investasi jangka panjang,” terangnya.

Baca Juga: Perkantoran Jakarta: Pasokan Stagnan, Tingkat Okupansi dan Sewa Meningkat

Minimnya pasokan baru di kawasan CBD Jakarta hingga 2026 diperkirakan semakin memperkuat posisi pemilik gedung (landlord).

Dengan kompetisi yang menurun dan permintaan yang stabil, beberapa gedung di kawasan premium seperti SCBD diprediksi mampu melakukan penyesuaian harga atau menyaring tenant dengan lebih selektif.

Menurut Martin, kondisi ini memberi sinyal bahwa pasar perkantoran di CBD Jakarta mulai memasuki fase yang lebih sehat setelah bertahun-tahun dibayangi tekanan oversupply.

Selain CBD, kawasan Non-CBD Tangerang Selatan diperkirakan semakin menarik bagi perusahaan fintech dan teknologi yang membutuhkan akses dekat ke kampus sebagai sumber talenta.

“Lingkungan low-rise yang modern serta biaya operasional yang lebih kompetitif membuat kawasan ini menjadi opsi strategis,” katanya.

Baca Juga: Hingga 2028, Pasokan Ruang Perkantoran di Jakarta Bertambah 352.000 Meter Persegi

Di sisi lain, kawasan luar Jakarta, seperti Bandung dan Yogyakarta akan semakin dipertimbangkan oleh perusahaan start-up.

Kedekatan dengan pusat-pusat pendidikan serta tingkat UMR yang lebih rendah menjadi faktor utama yang membuat kedua kota ini menjadi magnet bagi perusahaan yang ingin mengoptimalkan biaya operasional.

Sedangkan, di kawasan Non-CBD Tangerang Utara, terutama PIK dan PIK2 diprediksi terus tumbuh sebagai pusat komersial baru yang diminati perusahaan-perusahaan asal China.

“Kedekatannya dengan bandara, kelengkapan fasilitas, serta kesan modern yang kuat menjadikan kawasan ini pilihan ideal bagi perusahaan yang tidak sepenuhnya membutuhkan konektivitas langsung ke CBD,” tutup Martin.

Redaksi@realestat.id

Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

17 + 1 =