Beranda Pasar Properti Pasokan Masih Terbatas, Pusat Perbelanjaan di Jakarta Diminati Peritel Asal China

Pasokan Masih Terbatas, Pusat Perbelanjaan di Jakarta Diminati Peritel Asal China

Kendati sektor F&B dan kuliner menunjukkan penguatan, pengelola pusat perbelanjaan di Jakarta tetap berhati-hati terhadap risiko ketergantungan yang berlebihan.

190
0
Pusat Belanja Perbelanjaan Pasar Ritel Mal Jabodetabek Jakarta Surabaya Realestat.id dok1
Foto: Dok. Freepik
Google search engine

RealEstat.id (Jakarta) –  Hingga pertengahan tahun 2025, pengelola sektor ritel dan pusat perbelanjaan masih mengambil langkah-langkah konsisten dalam menjaga momentum pertumbuhan.

Para peritel secara aktif menawarkan promo payday, sementara pusat perbelanjaan menyelenggarakan festival kuliner serta berbagai kegiatan serupa guna meningkatkan jumlah pengunjung.

“Kolaborasi semacam ini tetap memberikan manfaat timbal balik dalam meningkatkan pengalaman berbelanja,” ungkap Ferry SalantoHead of Research Colliers Indonesia.

Kendati sektor F&B dan kuliner menunjukkan penguatan, pengelola pusat perbelanjaan di Jakarta tetap berhati-hati terhadap risiko ketergantungan yang berlebihan.

Baca Juga: Tren Pasar Ruko di Tangerang dan Fenomena Surga Kuliner Gading Serpong

Komposisi penyewa yang seimbang—termasuk penyewa non-F&B yang mampu menarik keramaian—dipandang penting untuk menjaga tingkat hunian.

Riset Colliers Indonesia menunjukkan, pada kuartal II tahun 2025, Jakarta dan wilayah Jabodetabek mencatat tingkat hunian yang stabil, masing-masing sebesar 73,4% dan 68,3%.

Menurut Ferry Salanto, tingkat hunian terus menunjukkan kontras yang jelas antara mal kelas atas dan mal kelas bawah.

“Mal kelas premium mampu mempertahankan tingkat hunian di atas 80%, sementara banyak mal kelas bawah tetap berada di kisaran 50% hingga 60%,” terangnya.

Baca Juga: Mal-mal Terkenal di Jakarta Dibanjiri Tenant, Sampai Harus ‘Waiting List’ Panjang

Lebih lanjut, Ferry Salanto menjelaskan, faktor yang menjadi pembeda utama terletak pada pengalaman pengunjung.

“Mal premium melayani konsumen yang mencari lebih dari sekadar ritel, dengan menawarkan destinasi kuliner, hiburan, dan gaya hidup—sebuah permintaan yang meningkat di era pasca-pandemi,” tuturnya.

Sementara itu, tingginya jumlah pengunjung dan lingkungan ritel yang kuat menjadikan mal-mal tersebut lebih menarik bagi penyewa, sekaligus mendukung tingkat hunian yang berkelanjutan.

Colliers Indonesia mencatat, pengelola pusat perbelanjaan di Jakarta secara aktif memantau tren ritel dan mengambil keputusan strategis untuk tetap kompetitif.

Baca Juga: Sempat Diterpa Isu Daya Beli, Okupansi Ruang Ritel Jakarta Capai 90%

Salah satu strategi yang diterapkan adalah secara bertahap meningkatkan komposisi penyewa dengan menghadirkan lebih banyak merek premium.

“Perlu digarisbawahi, minat dari peritel asal China, khususnya, menunjukkan peningkatan yang signifikan,” terangnya.

Pusat perbelanjaan dengan tingkat hunian yang kuat menerapkan sistem kurasi, agar penyewa baru bisa melengkapi penawaran yang telah ada.

Colliers Indonesia melihat, keterbatasan pasokan pusat perbelanjaan baru akan mendorong tren peningkatan hunian secara bertahap.

“Hingga akhir tahun 2025, tingkat hunian diproyeksikan meningkat 3% dibandingkan kondisi saat ini,” tutupnya.

Redaksi@realestat.id

Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News